![]() |
| Adolf Hitler (Kiri), William Patrick Hitler (Kanan) Sumber: https://allthatsinteresting.com/ |
William Patrick “Willy” Hitler adalah salah satu tokoh yang menarik dalam sejarah keluarga Adolf Hitler. Sebagai keponakan Der Führer, ia menjalani kehidupan yang penuh kontradiksi, mulai dari bekerja di bawah pamannya hingga membelot ke Amerika Serikat dan melawan rezim Nazi. Lahir pada 12 Maret 1911 di Liverpool, Inggris, ia adalah anak dari Alois Hitler Jr., saudara tiri Adolf Hitler, dan Bridget Dowling, seorang wanita Irlandia.
Hubungan dengan Adolf Hitler
Masa kecil William diwarnai dengan beragam konflik keluarga. Orang tuanya bercerai pada 1918, dan ia tinggal bersama ibunya sebelum akhirnya dikirim ke Jerman untuk tinggal dengan Alois Jr. Pada usia 18 tahun, ia mulai mengenal ideologi Nazi, namun tidak serta-merta mendukungnya. Pada 1930, ia pertama kali bertemu pamannya, Adolf Hitler, yang memberinya foto bertanda tangan sebagai kenang-kenangan.
Ketika Adolf Hitler menjadi Kanselir Jerman pada 1933, William memanfaatkan hubungan keluarganya dengan sang paman untuk mendapatkan pekerjaan di Berlin, seperti di sebuah bank dan pabrik mobil Opel. Namun, konflik mulai muncul ketika Hitler melarangnya mengirim uang ke Inggris untuk ibunya. William kesal dan mulai menyadari sifat otoriter sang paman. Ia bahkan mengancam akan membongkar rumor tentang asal-usul Yahudi Hitler, meskipun hal ini tidak pernah terbukti secara historis.
Hitler sendiri merespons ancaman itu dengan menawarkan jabatan tinggi di pemerintahan Nazi, tetapi hanya jika William melepaskan kewarganegaraan Inggrisnya. Mendengar tawaran tersebut, William menolak dan memutuskan untuk kembali ke Inggris pada 1938. Di sana, ia menulis artikel berjudul "Why I Hate My Uncle", yang berisi kritik tajam terhadap Hitler dan ideologi Nazinya.
Perlawanan terhadap Nazi
Setelah kembali ke Inggris, William bersama ibunya memutuskan pindah ke Amerika Serikat pada 1939, tepat sebelum pecahnya Perang Dunia II. Di AS, ia sempat mempromosikan bukunya, "My Uncle Adolf", yang memperlihatkan pandangannya tentang kejamnya rezim Nazi. Namun, pecahnya perang membuat mereka tidak bisa kembali ke Inggris.
William merasa bertentangan dengan dirinya sendiri sebagai kerabat seorang diktator, sehingga ia berusaha untuk membuktikan loyalitasnya kepada nilai-nilai kebebasan. Ia menulis surat kepada Presiden Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt pada 1942, meminta izin untuk bergabung dengan Angkatan Laut Amerika. Setelah melalui pemeriksaan FBI, William diterima menjadi petugas medis pada 1944.
Karier Militer
Karier militernya tidak berlangsung lama karena ia mengalami cedera saat bertugas. Meskipun begitu, ia menerima penghargaan Purple Heart atas pengabdiannya. Setelah perang, ia mengubah nama keluarganya menjadi William Patrick Stuart-Houston untuk menghindari koneksi langsung dengan nama Hitler. Ia menikah dengan Phyllis Jean-Jacques dan menetap di Long Island, New York, hingga akhir hayatnya pada 14 Juli 1987.
Berbeda dengan Adolf Hitler, yang tidak memiliki keturunan langsung, William memiliki empat anak: Alexander Adolf, Louis, Howard Ronald, dan Brian William Stuart-Houston. Mereka memilih menjalani kehidupan privat, jauh dari bayang-bayang sejarah keluarga mereka.
Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menonton video berikut:
