| Potret Djamin Gintings bersama istrinya (Likas Tarigan) Sumber: https://civitasbook.com/ |
Pada penghujung September 1965, suhu politik Indonesia mencapai puncak ketegangan. Letnan Jenderal Ahmad Yani, yang menjabat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad), mengambil keputusan mengejutkan. Ia memerintahkan Mayor Jenderal Jamin Gintings, Asisten II Operasi dan Latihan Menpangad, untuk mendampingi Dr. Soebandrio, Wakil Perdana Menteri I, dalam kunjungan kerja ke Sumatra Utara dan Aceh. Penugasan ini terbilang ganjil karena biasanya tugas pengawasan seperti ini berada di bawah Asisten I bidang pengamanan dan intelijen. Namun, Yani yang sangat mempercayai Jamin Gintings, seorang jenderal antikomunis dengan rekam jejak gemilang di Sumatra, meyakini bahwa Jamin adalah sosok yang tepat untuk misi ini.
Kunjungan Kerja yang Menyelamatkan Nyawa
Dr. Soebandrio bukan figur sembarangan. Ia menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, Menteri Hubungan Ekonomi Luar Negeri, dan Kepala Badan Pusat Intelijen (BPI). Dalam konteks Operasi Dwikora dan Trikora, ia juga dianugerahi pangkat militer tituler Marsekal Madya. Tugas Jamin Gintings adalah mendampingi dan mengawasi Soebandrio selama kunjungan kerja tersebut. Dalam beberapa hari, rombongan mengunjungi Medan dan Aceh. Tak ada yang menyangka bahwa keberadaan Jamin di luar Jakarta akan menjadi faktor yang menyelamatkan nyawanya.
Pada malam 30 September hingga dini hari 1 Oktober 1965, sebuah tragedi besar mengguncang negeri. Gerakan 30 September atau G30S, yang dipimpin oleh kelompok yang mengaku sebagai "Dewan Revolusi", menculik dan membunuh enam jenderal Angkatan Darat dan satu perwira lainnya. Kabar duka tersebut menghantam keluarga Jamin Gintings di Jakarta, yang terputus kontak dengannya. Likas Tarigan, istri Jamin Gintings, merasa gelisah mengetahui situasi di ibu kota yang kacau.
Kegalauan Likas Tarigan
Ketika iring-iringan truk militer melintas di depan rumah mereka di Jalan Sisingamangaraja, Kebayoran Baru, Jakarta, pada malam 30 September, Riahna Gintings, putri kedua Jamin Gintings yang berusia 13 tahun, sempat terbangun. Awalnya, keluarga tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Namun, keesokan harinya, berita mengenai penculikan dan pembunuhan para jenderal mulai tersebar. Riahna mendengar kabar bahwa Brigjen DI Panjaitan, seorang kerabat dekat keluarga, menjadi salah satu korban dalam peristiwa tersebut.
Kegelisahan semakin memuncak ketika Likas menyadari bahwa suaminya tidak ada di Jakarta, sementara komunikasi telepon sepenuhnya terputus. Ia tak tinggal diam. Dengan berani, Likas mulai mencari cara untuk memastikan keselamatan suaminya. Ia menulis surat singkat untuk Jamin yang isinya, "Apa kabar Abang di sana? Kami sehat dan selamat di Jakarta. Selamatkan dirimu!" Surat ini ia titipkan kepada seorang pilot di lapangan terbang Kemayoran yang akan terbang ke Medan. Namun, usaha itu tak cukup untuk meredakan kegelisahannya.
Tak puas hanya mengirim surat, Likas mendatangi berbagai pihak untuk mencari informasi. Ia mengunjungi rumah Burhanuddin Ali, sekretaris Soebandrio, namun tak mendapatkan jawaban memuaskan. Selanjutnya, ia mendatangi Mayjen Pranoto, yang ditunjuk Presiden Sukarno sebagai caretaker Menpangad. Jawaban Pranoto hanya menambah kegelisahannya: "Pak Jamin Gintings seharusnya aman, tetapi saya tidak tahu keberadaannya."
Khawatir akan keselamatan suaminya, Likas bahkan menelepon Wakil Asisten Operasi Brigjen Muskita dan meminta panser untuk mengantarnya ke rumah Soebandrio. "Saya mau tahu ke mana suami saya dibawa," ujar Likas tegas. Permintaan itu mengejutkan Muskita, yang akhirnya hanya mengirimkan istrinya ke rumah Likas sebagai bentuk dukungan moral.
Kabar Baik
Di tengah kecemasannya, telepon rumah Likas tiba-tiba aktif kembali, dan suara suaminya terdengar di ujung telepon. "Puji Tuhan, suamiku selamat!" seru Likas penuh haru. Tak lama kemudian, Jamin Gintings kembali ke rumah dengan pengawalan ketat. Ia singgah sebentar untuk menenangkan keluarganya sebelum berangkat ke Markas Kostrad, yang saat itu di bawah kendali Mayjen Soeharto.
Ternyata, penugasan mendampingi Soebandrio justru menyelamatkan nyawa Jamin Gintings. Jika ia berada di Jakarta pada malam 30 September, kemungkinan besar ia akan menjadi salah satu target dari gerakan tersebut, mengingat reputasinya sebagai jenderal antikomunis.
Karier dan Warisan Jamin Gintings
Setelah peristiwa G30S, karier Jamin Gintings tetap bersinar. Ia diangkat menjadi Inspektur Jenderal Angkatan Darat (Irjenad) hingga 1968, kemudian menjabat sebagai anggota DPR, Ketua Sekber Golkar, dan Ketua Dewan Harian Nasional 1945. Pada 1971, ia mendapatkan kenaikan pangkat menjadi Letnan Jenderal.
Jamin wafat pada 23 Oktober 1974 di usia 53 tahun akibat serangan jantung, saat menjalankan tugas sebagai Duta Besar RI untuk Kanada. Meski telah tiada, keberanian dan dedikasinya kepada bangsa tetap menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menonton video berikut: