![]() |
| Potret Konsep Proyek Habakkuk Sumber: https://intisari.grid.id/ |
Selama Perang Dunia II, Sekutu menghadapi tantangan besar dalam melawan U-boat Jerman yang mengancam jalur suplai di Atlantik Utara. Kapal induk konvensional yang diperlukan untuk melindungi konvoi sulit diproduksi karena keterbatasan pasokan baja. Dalam situasi kritis ini, Geoffrey Pyke, seorang ilmuwan Inggris, mengusulkan solusi inovatif dengan membangun kapal induk dari es.
Pyke berpendapat bahwa es memiliki kekerasan yang memadai, tidak mudah tenggelam, dan dapat diperbaiki dengan mudah di lautan. Ia mengusulkan untuk memotong bagian dari gunung es Arktik dan mengubahnya menjadi landasan pacu bagi pesawat. Ide ini menarik perhatian Lord Mountbatten, Kepala Operasi Gabungan Inggris, yang kemudian meyakinkan Perdana Menteri Winston Churchill untuk mendukung proyek tersebut. Proyek ini diberi nama sandi "Proyek Habakkuk", merujuk pada salah satu kitab dalam Alkitab.
Desain awal kapal induk es ini sangat mengesankan dengan panjang 2.000 kaki (sekitar 600 meter), lebar 300 kaki (sekitar 90 meter), dengan berat lebih dari 2 juta ton. Lambung kapal direncanakan setebal 40 kaki (sekitar 12 meter) untuk tahan terhadap serangan torpedo. Kapal ini akan dilengkapi dengan 40 menara senjata ganda dan berbagai senjata anti-pesawat ringan, serta mampu menampung hingga 150 pesawat pembom atau tempur bermesin ganda.
Salah satu tantangan utama dalam proyek ini adalah mencegah es mencair. Pyke mengusulkan sistem pendingin masif dengan jaringan pipa yang memompa refrigeran dingin ke seluruh struktur kapal. Prototipe sepanjang 60 kaki (sekitar 18 meter) dengan berat 1.000 ton dibangun di Danau Patricia, Pegunungan Rocky Kanada. Sistem pendingin bertenaga satu tenaga kuda berhasil menjaga prototipe tetap beku selama musim panas.
Selama pengembangan, ditemukan bahwa es biasa terlalu rapuh dan mudah berubah bentuk di bawah tekanan. Dua peneliti di Institut Politeknik Brooklyn, New York, menemukan bahwa dengan mencampurkan serbuk kayu ke dalam air sebelum dibekukan, dihasilkan material yang lebih kuat daripada es murni, bahkan lebih keras dari beton. Material ini dinamakan "pykrete", sebagai penghormatan kepada Pyke. Pykrete memiliki ketahanan tinggi terhadap kompresi, pecah, dan bahkan tembakan peluru.
Namun, seiring berjalannya waktu, berbagai masalah muncul. Kebutuhan akan bahan mentah seperti pulp kayu dalam jumlah besar menimbulkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap produksi kertas. Selain itu, kompleksitas dalam konstruksi, isolasi, dan pendinginan struktur sebesar itu memerlukan waktu dan sumber daya yang tidak dimiliki Sekutu pada saat itu. Kecepatan maksimum kapal yang diperkirakan hanya 6 knot dianggap terlalu lambat oleh Angkatan Laut. Akhirnya, Proyek Habakkuk dibatalkan. Sebagai gantinya, Sekutu memilih solusi yang lebih praktis, seperti mendirikan lapangan udara di Azores untuk memfasilitasi perburuan U-boat, menambahkan tangki bahan bakar yang lebih besar pada pesawat untuk memperpanjang waktu patroli, dan meningkatkan jumlah kapal induk pendamping.
/photo/2021/01/31/1jpg-20210131020805.jpg)