Brigjen Ahmad Sukendro, Sang Intelijen Cerdas yang Lolos dari Tragedi G30S


Brigjen Ahmad Sukendro (Kanan) saat bertemu dengan Presiden Sukarno
Sumber: https://historia.id/

Brigadir Jenderal TNI Ahmad Sukendro adalah salah satu tokoh yang perannya sering terlupakan dalam sejarah Indonesia, meskipun kontribusinya dalam dunia intelijen dan militer sangat signifikan. Lahir pada 16 November 1923 di Banyumas, Jawa Tengah, Sukendro adalah seorang perwira yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan intelijen militer Indonesia, terutama selama masa penuh gejolak di era 1950-an dan 1960-an.



Awal Karier di Masa Pendudukan Jepang

Karier militer Sukendro dimulai saat ia bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA) pada masa pendudukan Jepang. PETA, yang dibentuk oleh Jepang sebagai bagian dari strategi militernya, menjadi tempat awal Sukendro belajar taktik militer dan disiplin yang kelak akan menjadi modal besar dalam kariernya.


Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Sukendro turut aktif dalam pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR), cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI). Sukendro kemudian bergabung dengan Divisi Siliwangi, salah satu divisi elite TNI yang memiliki sejarah panjang dalam menjaga kedaulatan Indonesia.



Peran sebagai Kepala Intelijen

Sebagai seorang perwira muda yang cerdas, Sukendro mendapatkan kepercayaan dari Jenderal A.H. Nasution, salah satu tokoh besar militer Indonesia. Ia diangkat menjadi Kepala Intelijen Markas Besar Angkatan Darat (MBAD), posisi strategis yang memberinya akses langsung ke informasi penting mengenai situasi politik dan militer di dalam dan luar negeri.


Pada akhir 1950-an, Sukendro memimpin operasi-operasi intelijen yang dirancang untuk meredam gerakan separatis seperti PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) dan Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta). Kedua gerakan ini muncul sebagai reaksi atas ketidakpuasan terhadap pemerintahan Presiden Soekarno. Keberhasilan Sukendro dalam mengatasi ancaman ini membuatnya semakin diperhitungkan di kalangan militer.



Lolos dari Tragedi G30S

Ketika peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S) mengguncang Indonesia, Sukendro sedang tidak berada di tanah air. Ia tengah menjalankan tugas dinas ke Beijing, Tiongkok, menghadiri perayaan Hari Nasional Tiongkok atas nama pemerintah Indonesia. Hal inilah yang menyelamatkan nyawanya, mengingat banyak perwira tinggi Angkatan Darat yang menjadi target dalam peristiwa ini, seperti Mayjen Suprapto, Mayjen M.T. Haryono, dan Mayjen S. Parman.


Dokumen-dokumen CIA yang dirilis ke publik menyebutkan Sukendro sebagai satu-satunya anggota "brain trust", sekelompok perwira militer intelektual yang berhasil selamat dari tragedi G30S. Setelah peristiwa tersebut, Sukendro memainkan peran penting dalam melakukan lobi-lobi politik, termasuk ke Amerika Serikat, untuk mendapatkan dukungan bagi Angkatan Darat. Salah satu hasil lobi ini adalah bantuan peralatan komunikasi yang sangat dibutuhkan oleh militer Indonesia.



Kejatuhan Karier

Namun, masa-masa kejayaan Sukendro tidak berlangsung lama. Pasca G30S dan setelah kekuasaan Presiden Soekarno mulai melemah, posisi Sukendro dalam struktur militer juga ikut tergerus. Pengaruhnya semakin menurun seiring dengan naiknya Mayjen Soeharto sebagai figur dominan di Angkatan Darat.


Pada tahun 1967, Sukendro membuat pengakuan mengejutkan dalam sebuah kursus perwira di Bandung. Ia menyatakan keberadaan Dewan Jenderal, sebuah kelompok perwira yang diduga merencanakan kudeta terhadap Soekarno. Dalam pernyataannya, Sukendro juga menyebut nama Soeharto sebagai salah satu tokoh yang terlibat. Akibat pengakuan ini, Sukendro ditahan di Rumah Tahanan Militer Nirbaya Cimahi selama sembilan bulan tanpa proses pengadilan. Penahanan ini dilakukan atas perintah Jenderal Soemitro, salah satu orang kepercayaan Soeharto.



Kehidupan Pasca Militer 

Setelah dibebaskan dari tahanan, Sukendro tidak lagi aktif di dunia militer. Gubernur Jawa Tengah, Soepardjo Rustam, memberikan Sukendro posisi sebagai Direktur Perusahaan Daerah Jawa Tengah. Meskipun karier militernya telah berakhir, Sukendro tetap dikenang sebagai salah satu perwira intelijen paling cerdas dalam sejarah Indonesia.


Ahmad Sukendro meninggal dunia pada 11 Mei 1984 di Jakarta. Warisannya sebagai seorang perwira intelijen yang cerdas, loyal, dan penuh dedikasi tetap menjadi bagian penting dari sejarah militer Indonesia.


Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menonton video berikut:



LihatTutupKomentar